oleh

BUPATI SUYANTO TINGGALKAN ALI FIKRI

JOMBANG – Niat Suyanto meninggalkan Ali Fikri dalam pilkada Jombang kali ini, bisa dibilang setengah hati. Calon bupati yang diusung PDI-P itu sempat menangis saat partainya memutuskan untuk mendepak wakil bupati Jombang yang telah empat tahun lebih mendampingi dia memimpin Jombang itu.
Pengakuan keberatan Suyanto untuk ‘meninggalkan’ Ali Fikri itu diungkapkan salah satu fungsionaris DPC PDI-P Kab Jombang, Joko Triono. Menurutnya, sejak awal Suyanto telah menggadang Ketua DPD PAN Kab Jombang itu untuk kembali mendampinginya memimpin Jombang tahun 2008-2013 nanti.
“Iya, secara pribadi Pak Yanto memang menginginkan Pak Ali Fikri untuk tetap digandeng. Bahkan beliau sempat menangis saat partai memutuskan nama Widjono Soeparno,” ungkap Joko Triono via teleconference sore kemarin.
Kendati demikian, Suyanto tetap menghargai keputusan partainya tersebut dan harus legowo dengan menggandeng Sekdakab Jombang yang juga adik kandung Gubernur Jatim, Imam Oetomo itu.
Dia menyebut, penentuan nama Widjono yang telah digodok selama tiga hari sebelum masa pendaftaran calon di KPU itu ditutup, diikuti oleh 14 anggota petinggi DPC PDI-P Kab Jombang. Bahkan, rapat tersebut juga tidak hadiri oleh Suyanto sendiri, meski agenda itu juga membahas mengenai calon pendamping dia dalam pilkada 23 juli mendatang.
Rapat evaluasi tiga nama calon pendamping Suyanto, yakni Halim Iskandar (Ketua DPRD Kab Jombang), Widjono Soeparno dan Ali Fikri yang sudah digodok itu, nama Ali Fikri tetap tak bernasib mujur. Sejumlah catatan buruk diungkapkan pengurus DPC PDI-P. Dia dianggap telah mengkhianati sumpahnya sendiri saat digandeng Suyanto dalam pilkada tahun 2003 lalu, yang mengantarkan Suyanto-Ali Fikri menduduki kursi pemimpin di Kab Jombang lima tahun itu.
“Dulu dia bersumpah akan loyal kepada PDI-P, tapi nyatanya, dari hasil evaluasi yang dogodok DPC, ternyata Ali Fikri tak cukup loyal kepada PDI-P. Sebab, kami anggap Sli Fikri, sama sekali tak ada sumbangsih sedikitpun kepada PDI-P,” tukasnya.
Selain itu kata dia, pertimbangan ‘mendepak’ Ali Fikri lantaran ia kurang peduli dengan Nahdlatul Ulama, yang nota bene banyak mendukung Suyanto. Sehingga, nama Ali Fikri tak lagi ‘harum’ dimata pengurus DPC.
“Memang dia kurang peduli dengan NU, padahal mayoritas warga Jombang itu kan berkultur NU,” terangnya.
Selain Fikri, nama Halim Iskandar juga tak begitu menggiurkan untuk digandeng Suyanto. Dengan pertimbangan partai Halim (PKB Pro Muhaimin) bermasalah, tim DPC memutuskan untuk tak menggandengkan kakak kandung Muhaimin Iskandar itu dalam pilkada kali ini. Sehingga, tinggal nama Widjono Soeparno yang dianggap bersih dari nilai buruk.
“Dari tiga nama itu, yang dianggap aman untuk mendampingi Pak Yanto adalah Widjono Soeparno,” tegasnya.
Selain dianggap bebas dari nilai buruk, Widjono juga memiliki nilai kesejarahan dengan PDI-P. Meski menjabat sebagai pegawai negeri sipil (PNS), Widjono memiliki darah PDI-P dari ayah kandungnya, Suparno.
“Ayahnya pernah menjabat sebagai Ketua DPD PDI Jatim, sebelum nama PDI berubah menjadi PDI-P. Itu juga menjadi pertimbangan kami memilih Widjono,” urainya.
Ditambahkan lagi, peserta rapat pleno DPC itu juga menilai Widjono cukup cakap dalam memimpin Jombang, saat dirinya menjabat sebagai sekretaris daerah. Sehingga, Widjono dianggap mampu mendampingi Suyanto memimpin Kab Jombang lima tahun ke depan.
“Hasil rapat itu kita sampaikan ke DPD PDI-P Jatim. Dan hasil rekomendasinya, Widjono-lah yang mendampingi Pak Yanto,” pungkasnya.
Sayangnya, Ali Fikri sendiri sore kemarin tak bisa dihubungi. Salah satu nomor teleponnya yang biasanya bisa dihubungi, kemarin dalam kondisi tidak aktif. Namun sebelumnya, ia mengaku menyayangkan sikap Suyanto dan pengurus DPC PDI-P Kab Jombang yang sulit dihubungi menjelang detik-detik akhir masa pendaftaran calon.
Ia menilai, Suyanto dan Widjono telah menyalahi komitmen yang telah dibuat bertiga, saat Widjono belum menjabat sebagai sekdakab. Dalam kesepakatan itu, Widjono berjanji tak akan mencalonkan diri dalam pilkada.
“Bahkan Mas Yanto (panggilan akrab Fikri kepada Suyanto) sendiri yang takut jika Widjono akan merintangi kami untuk kembali maju dalam pilkada saat ini,” kata Fikri.
Bahkan kata dia, Widjono sempat disumpah untuk tak ikut bertarung dalam pilkada kedua pasangan Suyanto – Ali Fikri.
“Saya pegang betul komitmen itu. Bahkan untuk memegang komitmen ini, saya sama sekali tak melakukan komunikasi dengan calon-calon pilkada yang lain. Apalagi untuk menggandeng dan digandeng calon-calon lain,” tuturnya sembari mengaku menyayangkan pembalikan komitmen oleh pasangan calon dari PDI-P itu.(zen)

Komentar