oleh

Warung Kopi Tergerus Teknologi

Oleh : Zainul Arifin, S.Pd

Perkembangan zaman begitu cepat dan mampu mengubah pola fikir masyarakat Indonesia. Teknologi di era modern tanpa kita sadari menggerus budaya (tradisi) sekeliling kita, diantaranya kebiasaan ‘ngopi’ di warung kopi.

Sekitar 10 tahun lalu lebih, warung kopi yang dulu dengan sekarang sudah berbeda jauh. Dulu, warung kopi menjual minuman kopi dan teh dengan sejumlah makanan ringan. Orang yang membeli gayeng alias betah duduk berlama lamaan sambil berbicara ngelantur sana sini. Mulai dari obrolan berkualitas hingga rasan rasan alias ngeGosip.

Tapi namanya obrolan warung, ya begitulah tidaklah semua ditelan matang. Setidaknya saya pernah menikmati masa-masa itu di era tahun 1990 an.

Penataan tempat duduk di warung kopi saat itu saling berhadapan dengan penjual. Hanya tersekat meja dan diatasnya terdapat beberapa makanan ringan, doantaranya beraneka ragam gorengan, kerupuk, kacang dan lainnya.

Di warung itu, antara penjual dan pembeli pun bisa saling berinteraksi. Meski diawal tidak saling mengenal, baik antara penjual, pembeli dan sesama pembeli tetap berinteraksi saling ngobrol meski terkadang hanya sebatas memperkenalkan diri.

Canda tawa antara pembeli sesama pembeli maupun dengan penjual di warung terkadang membuat suasana sejuk, rukun dan menambah keakraban.

Namun, berbeda dengan sekarang. Era berganti tampaknya warung pun mengalami reformasi. Baik dari penyajian, jenis kopi yang dijual maupun fasilitas yang disediakan berbeda jauh dengan era terdahulu.

Warung kopi dulu, kini sudah tergerus zaman, berubah nama menjadi cafe. Kopi yang dijual pun sudah bermacam macam. Begitupun dengan makanan ringannya dengan berbagai pilihan. Fasilitas pun lebih maju dengan kelengkapan wifi, televisi dan musik yang menggelegar. Tempat duduk pun tak lagi berhadapan dengan penjual. Untuk “pengiritan”, bahkan dibuat lesehan (tanpa tempat duduk).

Baca Juga  Menangkal Pikiran Rasial, Pendekatan Humanis Bukan Reaktif

Otomatis, suasana pengunjung pun berbeda pula. Para pembeli pun tidak lagi saling berinteraksi seperti dulu. Mereka datang ke kafe (sebutan warung sekarang) dengan membawa gadget (ponsel, laptop) canggihnya untuk menikmati fasilitas yang disediakan.

Tidak ada saling sapa, meskipun terkadang kenal. Memanggil pun sesekali, itupun kepada pemilik warung untuk memesan pesanannya. Menoleh pun jarang ketika jari jarinya sudah disibukkan memencet tombol diatas layar gadgetnya. Tidak sedikit terkadang tersenyum sendiri ketika membaca tulisan (pesan) yang dikirim dari teman temannya yang jauh. Sementara teman yang dekat terkadang terabaikan.

Meski warung kopi tempo dulu tidak punah secara total, namun setidaknya perlahan mulai terkikis. Budaya guyub dan kebersamaan didalam warung perlahan hilang berganti budaya cuek, angkuh, egois dan sombong. Tanpa disadari, sifat itu terbentuk dengan sendirinya.

Bagaimanapun, perubahan zaman tidak bisa dibendung. Mau tidak mau, terkadang harus “dipaksa” untuk mengikut. Saya pun terkadang menikmati hal-hal seperti itu. Yakni, berkunjung ke kafe yang menyediakan fasilitas wifi. Meski tidak saling kenal didalam kafe itu, saya tetap masuk untuk membeli kopi sembari menikmati fasilitas gratis didalamnya. (*)

Komentar