oleh

Sekilas Teropong Peringatan HGN 2018 di MTsN 5 Jombang

Foto: Para guru (Pendidik) di MTsN 5 Jombang. (Ist)

Tugas mendidik sangat mulia sebab peradaban bangsa mana pun terbentuk berkat adanya para guru yang tak henti mentransmisikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya. Guru mengemban amanah, fungsi, dan kehormatan untuk mendidik anak-anak, sekaligus menjadi teladan menata peradaban.

”Mari kita senantiasa menjaga rasa cinta kepada diri. Hanya dengan cinta, kita bisa mendidik anak-anak, tidak dengan amarah, dan murka.Saya berharap, pola pendidikan kita bisa diperluas kepada ukuran kebajikan akhlak. Bukan kognisi belaka. Akhlak itu yang terpenting. Agama hakikatnya perilaku dan kebajikan kepada sesama.”

Tulisan diatas merupakan kutipan sambutan oleh Menteri Agama RI (Menag) Lukman Hakim dalam acara penyerahan anugerah yang bertepatan dengan Hari Guru Nasional (HGN) 2018 yang digelar di Dyandra Covention Hall, Surabaya, Minggu (25/11/2018).

Membacanya membikin sanubari bergetar. Bagaimana tidak, begitu berat tugas guru dalam mengemban amanah. Bukan sekedar tanggungjawab di dunia, melainkan juga di akhirat. Namun amanah ini harus diemban dengan sepenuh hati. Mengingat sudah memberanikan diri memilih sebuah profesi yang penuh tantangan.

Tantangan ini sebenarnya tidak memberatkan hati apabila dalsam diri masing-masing individu memiliki perasaan ikhlas dan senang dalam menjalankannya. Hanya saja keikhlasan dan kesenangan itu harus sesuai dengan koridor yang sudah ditetapkan. Demikian halnya dengan dasar dalam bertugas.

Ada pedoman yang bisa dijadikan landasan dalam menjalankan amanah ini, yang sebenarnya sudah sangat sering terdengar dan bisa dibaca pada poster-poster madrasah maupun kelembagaan madrasah yang lain, yaitu lima budaya kerja madrasah.

Baca Juga:  Polisi Gerebek Pabrik Miras di Semanding, Tiga Orang Buron

Bahwa dimanapun saat bertugas, 5 nilai budaya kerja itu harus diterapkan. Yaitu : 1). Integritas artinya keselarasan antara hati, pikiran,perkataan dan perbuatan yang baik dan benar.

2). Profesionalitas,artinya bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik.

3) Inovasi, artinya menyempurnakan yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik.

4). Tanggung jawab,artinya bekerja secara tuntas dan konsekuen.

5). Keteladanan, artinya menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Setidaknya, dengan berpegang kelima hal tersebut, kita sebagai guru madrasah akan berusaha menjalankan tugas untuk mencapai tujuan.

Disebutkan bahwa keteladanan merupakan poin yang terakhir. Hal ini bisa dimaknai bahwa jika keempat nilai budaya kerja bisa dijalankan dengan baik dan bijak secara otomatis keteladanan akan muncul dengan sendirinya.

Hal ini bisa dilihat pada realitas kelembagaan pendidikan yang ada di sekitar masyarakat. Salah satunya ialah MTsN 5 Jombang. Sebuah lembaga madrasah yang berada di utara Sungai Brantas.

Sekilas orang mendengarnya, madrasah ini biasa-biasa saja dan tiada yang lebih. Namun saat melihat dan mengetahui kondisi yang sebenarnya, orang tiada mengira bahwa di seberang utara Brantas ada madrasah yang yang layak untuk diapresiasi.

Misalnya pada momen peringatan HGN 2018. Demikian halnya saat upacara peringatan HGN 2018, yang bertugas sebagai pembina bukanlah kepala madrasah melainkan guru yang sudah dijadwalkan pada setiap Senin.

Saat itu pembina upacara, Ali Muttaqin, S.Ag, yang menyampaikan sebuah maqola yang sangat mendalam berkaitan dengan HGN, “Ana Abdu man allamani walau kaana harfan”. “Saya adalah hamba bagi orang yang mengajarku walaupun satu ayat.”

Baca Juga:  Polisi Gerebek Pabrik Miras di Semanding, Tiga Orang Buron

Maqola ini juga memuat ajaran akhlak. Penjelasannya bahwa seorang pencari ilmu adalah hamba bagi orang yang memberi ilmu. Kata mutiara itu disampaikan oleh Ali Bin Abi Tholib. Dijelaskan bahwa makna hamba adalah seorang murid atau siswa yang wajib taat dan patuh kepada gurunya untuk bisa menggapai keberhasilan.

Uraian tersebut sangat mengena bagi siswa dan guru. Bagi siswa ajaran akhlak dalam mencari ilmu. Sebaliknya bagi guru hendaknya memberikan ilmu yang bermanfaat.

Peringatan HGN di madrasah ini tidak nampak suasana yang meriah seperti tahun sebelumnya. Tidak ada balon, dan tidak bunga. Yang ada hanyalah sorak sorai dan tepuk tangan meriah usai upacara saat pengumuman prestasi yang diraih para siswa dalam mengikuti kompetensi baik tingkat intern maupun kabupaten. Ada prestasi lomba cerdas cermat, literasi, dan Paskibra, dan lari.

Inilah yang beda. Ternyata dalam memaknai HGN di madrasah ini sangat bermakna. Apalagi ada sebuah apresiasi madrasah kepada mereka yang berprestasi. Sebuah teladan dalam memotivasi para siswa yang harus dibiasakan. Sebagai wujud cinta kepada para siswa. Sebagai bentuk ikatan hati antarkepala madrasah, guru dan siswa.

Disadari atau tidak bahwa sebenarnya motivasi pencapaian prestasi di madrasah ini berawal dari sebuah keteladanan dari orang nomor satu di madrasah ini. Bagaimana tidak. Madrasah yang sebelumnya tidur cukup lama sedikit demi sedikit menggeliat dengan prestasi yang ditorehkan oleh Kepala Madrasahnya, Drs. Purnomo, M.,Pd.I.

Baca Juga:  Polisi Gerebek Pabrik Miras di Semanding, Tiga Orang Buron

Mulai akreditasi tahun 2017 kemarin dengan hasil yang memuaskan. Berlanjut sebagai Kepala Madrasah Berprestasi tingkat Kabupaten dan Jawa Timur. Ternyata keteladanan Kepala Madrasah dalam meraih prestasi ini mengalir kepada yang lain.

MTsN 5 Jombang yang diwakili Yuliatin Nafisah, S.Pd selaku PKM Kurikulum menjadi Tim Nasional dalam pembuatan kisi-kisi dan soal UAMBN mata pelajaran Bahasa Arab. Tidak berhenti sampai disitu, prestasi berikutnya ditorehkan Anik Zuroidah,S.Pd.

Ia berhasil menjadi juara 2 dalam lomba menulis KTI tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Nizamiah Learning Center dalam momen 5 Th Anniversary 2018. Tidak menutup kemungkinan prestasi yang lain akan tumbuh dan bermunculan dari para guru dan siswa yang lain.

Begitu pentingnya keteladanan hingga mampu mengubah pola pikir seseorang menjadi sosok yang memiliki peradaban yang tinggi, yang ditandai dengan pola perilaku yakni kata dan perbuatan.

Bukan hanya sekadar teori belaka. Namun keterkaitan kognitif, keterampilan, dan afektif yang seimbang. Dengan begitu akan melahirkan kebajikan antarsesama, sosok insan kamil yang mulia, dan menjadi sosok manusia yang bermanfaat bagi sesama. Manusia yang paling baik budi pekertinya, dan yang bisa memanusiakan manusia.

Inilah ukuran sebuah peradaban yang akan terus dikembangkan oleh Madrasah Tsanawiyah Lima Jombang atau yang lebih populis disingkat Madsamajo. Dengan keyakinan dan rasa optimis bahwa cepat atau lambat madrasah ini akan menemukan kembali mutiara yang hilang. Semoga. (*)


Penulis: Arif Hidayatulloh, M.Pd.I


Berita Lainnya