oleh

Diduga Curang Pengisian Perangkat Desa, Warga Purwotengah Mengadu ke DPRD Kediri

KEDIRI (Jurnaljatim.com) – Pengisian perangkat Desa Purwotengah, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, masih menyisakan polemik. Warga menduga terjadi kecurangan yakni jual beli jabatan. Hal itu terlihat adanya pengaduan dari perwakilan warga Desa Purwotengah, ke DPRD dan Pemkab Kediri.

Tiga warga Purwotengah yakni Dian Pratama Yoga, Yusup Priyanto dan Rio Sunaryo, mendatangi kantor DPRD dan kantor Pemda Kabupaten Kediri untul mengadu tentang pengisian perangkat desa setempat dan melayangkan surat untum dilakukan peninjauan kembali proses pengangkatan/pengisian perangkat di desanya.

Menurut Dian Pratama Yoga, proses yang dilakukan dalam pengisian perangkat desa pada 16 Maret 2019 lalu penuh dengan rekayasa. Dalam proses itu juga transparansi hasil ujian. Sebab, baru diumumkan dua hari hasil tesnya.

“Mengapa harus menunggu selama 2 hari terlebih dahulu, untuk bisa mengetahui hasil tes. Padahal saat ini zamannya kan sudah canggih. Bisa jadi, jeda waktu ini dimanfaatkan mereka untuk merekayasa hasil ujian,” ujarnya di Kantor DPRD Kabupaten Kediri, Senin (8/4/2019).

Yoga yang juga salah satu peserta ujian tes perangkat, mengungkapkan, proses pengisian perangkat tersebut, diduga kuat ada proses jual beli jabatan dengan nominal ratusan juta rupiah. “Harganya variatif, tergantung dengan posisi jabatannya,”tudingnya.

Yusup Priyanto, warga Dusun Nglerep, Desa Purwotengah yang turut hadir dalam pengaduan ke DPRD mengaku pernah ditelefon oleh salah satu oknum perangkat desa setempat yang menawari anaknya untuk menjadi perangkat desa.

Oknum perangkat desa itu menjanjikan anaknya akan diangkat menjadi perangkat desa sebagai kasun (Kepala Dusun) Ngetrep, asalkan membayar sejumlah uang yang cukup fantastis.

“Setelah seleksi penjaringan perangkat anak saya diposisi peringkat dua. Kemudian saya di telepon untuk membicarakan soal pengangkatan perangkat. Yang notabene saya harus bayar uang senilai Rp 400, agar anak saya dilantik jadi perangkat,”bebernya.

Baca Juga  Mayat Bertato Mengapung di Dam Karet Sungi Brantas

Yusup beberapa kali ditelpon namun tak meresponnya, sebab ia tidak mempunyai uang sebanyak itu. Hingga akhirnya, terbukti anaknya yang mengikuti ujian tes pengisian perangkat desa dinyatanya tidak lolos.

“Saya menduga, ini ada sangkut pautnya atas tawaran yang saya tolak oleh oknum perangkat desa itu. Maka dari itu, kami mengadu ke DPRD sekaligus Pemerintah Kabupaten Kediri mengenai kasus ini,” tandasnya.

Sementara itu, dalam pengaduannya, mereka tida bertemu dengan Anggota Dewan. Mereka hanya bisa melayangkan surat untuk dilakukannya rapat dengar pendapat dengan pihak terkait untuk menyikapi masalah tersebut.

Sementara itu, hingga berita ini diunggah, Kepala Desa Purwotengah, Sholahudin belum bisa dikonfirmasi terkait tudingan dugaan jual beli jabatan dalam pengisian perangkat desanya. (*)


Editor: Z. Arifin