oleh

Semangat Lomba Baca Teks Proklamasi di Rumah Bung Karno Jombang

JOMBANG (Jurnaljatim.com) – Suasana tampak meriah di sebuah gang Bung Karno, RT 01 RW 06, Desa Rejoagung, kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa timur. Puluhan anak-anak dan warga sekitar berada disebuah pekarangan bekas bangunan yang hanya tinggal pondasi.

Anak-anak tampak semangat berlomba membaca teks proklamasi yang diselenggarakan warga di lokasi itu. Kuswartono salah satu pengagas lomba meyakini lokasi pekarangan tersebut merupakan rumah masa kecil proklamator sekaligus Presiden pertama Soekarno atau bung Karno yang awalnya bernama Raden Kusno Sosromihardjo.

Menurut Kuswartono, kegiatan lomba baca teks proklamasi itu merupakan kali pertama diadakan di tempat itu u untuk memperingati hari kemerdekaan ke 75 bangsa Indonesia. Ada sekitar 25 anak yang mengikutinya denga tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

“Kegiatan lomba baca teks di sini untuk mengingatkan kembali bahwa tanggal 17 Agustus merupakan hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan bukan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia,” kata Kuswartono yang juga kerabat Bung Karno dari Kediri, Senin (17/8/2020).

Semangat Lomba Baca Teks Proklamasi di Rumah Bung Karno Jombang
Penggagas lomba Kuswartono/Zainul Arifin

Kemerdekaan Bangsa Bukan Republik Indonesia

Ia kembali menegaskan, pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan hari kemerdekaan bangsa dan bukan Republik Indonesia. Jika tidak diluruskan, kata dia, maka akan terjerumus pada lima dosa besar politik.

“Yang pertama terjadi pengingkaran terhadap para pejuang-pejuang bangsa, pengingkaran terhadap teks Proklamasi yang didalamnya tidak ada satu katapun yang menyatakan Kemerdekaan Republik,” ucapnya.

“Kemudian kedua, penghianatan terhadap bapak bangsa yakni Soekarno dan Hatta yang membacakan teks Proklamasi atas nama Bangsa Indonesia dan bukan atas nama Republik,” ujarnya.

Dan dosa besar yang selanjutnya, kata dia, jika hal tersebut tidak sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya juga tidak ada 1 katapun yang menyatakan Kemerdekaan Republik

“Dan yang terakhir yakni juga bertentangan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mana NKRI tidak pernah dijajah oleh siapapun. Dengan kata lain, yang mengalami penjajahan yakni Bangsa Indonesia.

“NKRI sudah menjadi negara yang abadi dan tidak pernah dijajah. Jadi kalau kita katakan Negara Republik Indonesia ini pernah dijajah, ini namanya dosa besar politik,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, anak-anak sebagai generasi yang akan datang yang harus diselamatkan dari dosa besar politik tersebut. Mereka harus paham bahwa 17 Agustus adalah Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia, bukan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sementara itu, Nuzulatul Khasanah, salah satu peserta mengaku sangat bangga bisa mengikuti lomba baca teks proklamasi tersebut. Terlebih, lomba digelar di situa rumah kelahiran sang proklamator Soekarno.

“Karena Bung Karno Presiden ke-1 Republik Indonesia, Proklamator juga,” tutur bocah perempuan usia 10 tahun itu.

Siswi kelas 5 salah satu madrasah di Ploso, Jombang, itupun berharap kegiatan seperti itu bisa digelar setiap tahun disaat peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia.


Editor: Hafid