oleh

Warga Jombang Olah Sabut Kelapa Jadi Media Hedroponik, Sebulan Rp8 Juta

JOMBANG (Jurnaljatim.com) – Berawal melihat limbah kulit kelapa tidak terpakai di tetangganya dan kebingungan untuk membuangnya, Agus Winarno pun muncul ide usaha mengolahnya menjadi barang berguna. Alhasil, usahanya terbilang berhasil hingga menghasilkan uang jutaan rupiah per bulannya.

Warga Dusun Kedungbentul, RT 03/RW 03, Desa Kedungturi, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang tersebut mengolah cocopeat atau serbuk sabut (serabut) kelapa sebagai media tanam hidroponik pengganti media tanah.

Agus menuturkan, pembuatan cocopeat muncul ketika melihat limbah kulit kelapa tidak terpakai di tetangganya. Sementara, tetangganya kebingungan untuk membuangnya. Ia pun mencoba membuat cocopeat untuk media tanam bonsainya.

“Ternyata cocofiber juga bermanfaat untuk media tanam dengan jenis tanaman apa saja dengan keistimewaan dapat menyimpan air lebih lama,” ucap pria berusia 51 tahun tersebut, Sabtu (19/9/2020).

“Cocofiber tidak harus disiram setiap hari. Bahkan saya juga menguji tanaman milik saya. Selama satu minggu tidak disiram pun ternyata masih basah di bawahnya,” lanjutnya.

 

Olah sabut kelapa jadi Hedroponik/Zainul Arifin

Beli sabut kelapa Rp5 ribu per karung

Seiring usaha yang sudah berjalan selama 8 bulan sejak Januari 2020 lalu, Agus juga membuat pot bunga. Ia mengaku banyak permintaan pot dan cocopeat untuk produksi campuran pupuk organik.

“Pembeli yang datang ke tempatnya tidak hanya di Jombang, tapi juga ada dari Gresik dan Sidoarjo. Mereka mengambil cocofiber langsung ke sini,” ucapnya.

Pria yang sehari-hari sebagai juru parkir mengatakan bahan baku ia beli di sejumlah pedagang kelapa dengan harganya Rp5 ribu per karung ukuran besar. Jika limbah itu sudah selesai diproses bisa menghasilkan uang ratusa ribu rupiah.

“Satu karung besar saya beli dengan harga Rp5 ribu. Itu kalau diproses dan diuangkan, menjadi sekitar Rp500 ribu,” ungkapnya.

Dalam sehari, Agus dapat memproduksi sebanyak tiga karung. Sementara untuk cocofiber dia mampu memproduksi sebanyak dua karung besar dengan menggunakan alat kecil. Selama pengerjaan, Agus dibantu dua orang rekannya. Satu di bagian penguraian, penggilingan, dan satu orang lagi bagian perakitan.

Penghasilan capai Rp8 Juta per bulan

Dia menyebut, pengaruh meningkatnya permintaan salah satunya karena saat ini musim banyaknya orang yang hobi bercocoktanam bunga dan sejenisnya, terutama pada potnya.

“Satu karung besar bisa menjadi sekitar 50 pot lebih. Untuk harga pot yang sudah jadi Rp12 ribu. Untuk cocofiber, di kantong ukuran 2 kilogram isi 1 ons, harganya Rp5 ribu,” ujarnya.

Sementara cocopeat kantong 2 kilogram isi 4 ons, dijual dengan harga Rp4 ribu. Penghasilan Agus selama satu bulan dalam penjualan pot rata-rata sekitar Rp4 juta.

“Itu belum termasuk penjualan dari cocopeat dan cocofibernya. Kalau total secara keseluruhan, dalam satu bulan saya dapat menghasilkan Rp7 hingga Rp8 juta,” pungkasnya.


Editor: Hafid