oleh

Polisi Bongkar Peredaran Uang Palsu Modus Ritual di Mojokerto

MOJOKERTO (Jurnaljatim.com) – Satreskrim Polres Mojokerto Kota membongkar peredaran uang palsu (Upal) di wilayah hukumnya. Tersangka yang ditangkap Musrilan (51) warga desa Mojodadi, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Jawa timur.

“Tersangka saat ini sudah kita lakukan penahanan,” kata Kasatreskrim Polresta Mojokerto AKP Rohmawati Lailah, Senin (12/10/2020).

Terungkapnya kasus tersebut bermula Mochamad Qomari dijanjikan tersangka akan diajak bisnis jual beli hewan tokek langka. Korban dimintai uang Rp80 juta. Namun, hingga jatuh tempo janji itu tak bisa dipenuhi tersangka.

Kemudian korban diminta untuk melakukan ritual khusus dengan modus penggandaan uang dari pecahan Rp2 ribu menjadi Rp100 ribu dimasukkan ke dalam tumbu ditaruh di kamar.

Rohmawati melanjutkan, setelah korban keluar kamar beberapa saat kemudian uang dalam tumbu diambil oleh tersangka dan ternyata sejumlah uang pecahan Rp2 ribu menjadi pecahan uang Rp100 ribu.

“Tapi (saat itu) korban diminta untuk menyimpannya,” ujarnya.

Terbongkar dari membeli bensin

Terbongkarnya upal tersebut saat korban menggunakannya untuk membeli bensin di sebuah SPBU. Uang korban ditolak petugas SPBU lantaran diduga palsu.

“Korban kemudian mendatangi tersangka namun tak mengakuinya. Selanjutnya korban melaporkan ke kami,” ujarnya.

Setelah ada laporan itu, polisi melakukan peyelidikan. Rohmawati mengatakan dari pemeriksaan awal dengan berkoordinasi ke bank, uang pecahan Rp100 ribu diduga kuat palsu. Kemudian dilakukan penangkapan tersangka di rumahnya.

Dalam ungkap kasus tersebut, petugas kepolisian mengamankan upal pecahan 100.000 senilai 18,2 juta, dengan rincian 13,2 juta dari korban dan dari tersangka 5 juta. Sisanya 4,8 juta sudah diedarkan tersangka.

“Tersangka mengaku membeli upal dari Siswandi warga Surabaya. Upal pecahan 100.000 senilai 23 juta dibeli dengan harga Rp10 juta,” jelasnya.

Rohmawati menambahkan, untuk pembuat uang palsu Siswandi saat ini sudah ditangkap Polrestabes Surabaya dan diproses secara hukum.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat pasal 36 ayat (2) dan (3) juncto pasal 26 ayat (2) dan (3) UU RI nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang subsider pasal 378 dan 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan.


Editor: Hafid